Memuat...
Memuat...
Temukan materi teknologi dan infografis praktis berdasarkan nama teknologi, komoditas, atau kelompok komoditas.
Gunakan kata kunci dan filter komoditas untuk mempersempit daftar teknologi.
Semua teknologi yang tersedia untuk publik.
Rekomendasi Pupuk Tanaman Anggrek Dendrobium Pada fase vegetatif, tanaman anggrek Dendrobium menggunakan pupuk NPK 30:10:10. Pada fase pertumbuhan remaja, tanaman anggrek Dendrobium menggunakan pupuk NPK 10:10:10. Pada fase generatif, tanaman anggrek Dendrobium menggunakan pupuk NPK 10:30:30. Pupuk majemuk diberikan 2 kali seminggu. Alternatif lainnya, dapat digunakan pupuk slow release yang diberikan 3–6 bulan sekali dengan dosis 2 g/tanaman.
Budidaya Tanaman Anggrek Phalaenopsis A. Persiapan 1. Persiapan Lahan atau Media Tanam Media tanam yang digunakan untuk anggrek Phalaenopsis dapat berupa pakis, serbuk dan sabut kelapa, sphagnum mos, kaliandra, arang, dan potongan kulit kayu pinus yang sudah diproses. Pemilihan media tanam tergantung pada lingkungan tumbuh, ketersediaan bahan, dan tujuan penanaman. 2. Persiapan Sarana dan Prasarana Penanaman anggrek Phalaenopsis direkomendasikan menggunakan sarana rumah lindung pada suhu 26–30°C dengan suhu ideal 28°C. Biasanya, anggrek Phalaenopsis ditumbuhkan pada dua agroklimat, yaitu pada fase vegetatif 0–8 bulan di dataran rendah. Selanjutnya, tanaman dipindahkan ke dataran tinggi untuk menginisiasi fase generatif. Anggrek Phalaenopsis ditanam menggunakan wadah berupa pot yang terbuat dari tanah liat, plastik, sabut kelapa tua, serta batang pakis yang difungsikan sebagai pot. 3. Persiapan Benih Penyediaan benih anggrek dapat dilakukan melalui cara vegetatif, yaitu kultur in vitro, dan secara generatif melalui semai biji pada polong anggrek. Perbanyakan kultur in vitro yang dilakukan BPSI Tanaman Hias menggunakan eksplan mata tunas pada tangkai bunga. Lama kultur Phalaenopsis dari mulai inisiasi hingga aklimatisasi diperkirakan selama 2 tahun. Benih anggrek Phalaenopsis dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut. Benih botolan, yaitu planlet dengan pertumbuhan sehat, penampilan visual hijau, segar, dan mengkilap, minimal memiliki 2–4 akar serta 3–4 daun. Kompot, yaitu tanaman sehat, berdaun hijau, segar, dan mengkilap, berumur 4–6 bulan setelah aklimatisasi. Seedling, yaitu tanaman sehat, berdaun hijau, segar, dan mengkilap, berumur 8–10 bulan setelah aklimatisasi, serta memiliki minimum 4 daun. Tanaman remaja, yaitu tanaman sehat, berdaun hijau, segar, dan mengkilap, berumur 12–16 bulan setelah aklimatisasi, serta memiliki minimum 4 daun. Tanaman dewasa, yaitu tanaman sehat, berdaun hijau, segar, dan mengkilap, berumur 16–22 bulan setelah aklimatisasi, serta memiliki minimum 4 daun. B. Pelaksanaan 1. Penanaman Tahapan penanaman di pot disesuaikan dengan umur dan perkembangan tanaman. Penanaman bibit botolan dilakukan dengan ketentuan bahwa bibit yang berukuran besar dapat ditanam langsung sebagai seedling, sedangkan bibit yang kecil ditanam dalam bentuk kompot. Penanaman kompot dimulai dengan mengeluarkan bibit dari botol, kemudian dilanjutkan dengan menanam di dalam pot berukuran 15–20 cm dengan jumlah tanaman berkisar 25–40 tanaman. Penanaman seedling dilakukan setelah tanaman di kompot tumbuh penuh. Selanjutnya, seedling dipindahkan ke pot individu dengan ukuran 5–7 cm. Penanaman remaja dilakukan ketika tanaman individu kecil sudah tidak seimbang pertumbuhannya dengan ukuran pot. Selanjutnya, tanaman direpotting ke pot yang lebih besar, yaitu 10–12 cm. Penanaman tanaman dewasa dilakukan ketika tanaman yang berada di pot sudah tidak mencukupi lagi ruang tumbuhnya, sehingga dipindahkan ke pot yang lebih besar, yaitu 15–17 cm. Pada periode ini, tanaman sudah berada pada periode siap dibungakan. 2. Pemeliharaan Penyiraman dilakukan secara teratur dan tidak berlebihan, biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara fertigasi menggunakan pupuk daun. Pupuk diberikan pada bagian permukaan dan bawah daun. Pengendalian HPT disesuaikan dengan kondisi serangan HPT. HPT utama yang menyerang Phalaenopsis berupa kumbang gajah dan keong. Pengendalian dilakukan secara mekanis dan menggunakan pestisida sistemik. HPT lainnya adalah tungau merah, yang dikendalikan menggunakan insektisida dengan konsentrasi larutan 2 cc/liter air dan diaplikasikan setiap hari selama tanaman terkena serangan. Penyakit busuk lunak dikendalikan pada gejala awal dengan cara memotong daun yang terinfeksi, membuang media yang terinfeksi, serta mensterilisasi pot dengan larutan desinfektan atau dipanaskan dengan api. Selain itu, pengendalian juga dilakukan dengan bakterisida. Penyakit busuk hitam dicegah dengan menggunakan media steril dan menghindari penyiraman berlebihan. Bagian yang terinfeksi dibuang, kemudian dilakukan pengendalian menggunakan fungisida berbahan aktif fluopikolid dan propineb. Penyakit antraknosa dikendalikan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif benomyl, zineb, atau mancozeb. Pemangkasan dilakukan dengan membuang bagian tanaman yang sudah tua, menguning, kering, ataupun terkena serangan HPT. Repotting dilakukan setidaknya 6 bulan sekali, biasanya bersamaan dengan penggantian media tanam. C. Panen 1. Waktu Panen Tanaman pot biasa dipanen atau dijual pada umur 18–24 bulan setelah aklimatisasi. 2. Kriteria Panen Bunga potong dipanen pada saat 70% bunga mekar dalam satu tangkai, dengan jumlah bunga minimum 6 kuntum per tangkai. Kesegaran bunga dapat bertahan hingga 3 bulan dalam pot dan 14 hari setelah dipotong. 3. Teknis Pemanenan Anggrek pot dipasarkan ketika kuntum bunga sudah muncul, sebagian kuntum bunga telah mekar, atau sesuai permintaan konsumen. Anggrek potong dipanen dengan cara sebagai berikut. Pertama, waktu panen yang baik adalah pagi hari sebelum matahari terbit atau sore hari setelah matahari terbenam. Kedua, gunting tanaman yang digunakan harus tajam, bersih, dan steril. Ketiga, bunga dipotong pada bagian pangkal tangkai bunga dengan kondisi 70% mekar. Keempat, tangkai bunga dimasukkan pada wadah atau tube yang berisi air bersih atau dibungkus kapas yang dibasahi.